Senin, 27 April 2015

BENCI SENDIRI TAPI BUTUH SENDIRI


 
        Matahari tampak mulai terik, sudah beberapa jam yang lalu alarm hp berbunyi Eka tampak mulai bergerak. Ya dia baru bangun. Mahasiswi perguruan tinggi swasta ini memang punya kebiasaan buruk bangun telat dengan berbagai alasan dan alibi. Gara-gara tugaslah, ulanganlah, kecapekan lah, dan lah lainnya. Ditambah lagi jika hari libur, sudah bisa ditebak aktivitas terbaiknya adalah tidur dengan alibi cara menenangkan hati, pikiran , dan jasmani  adalah dengan memejamkan mata. Tidak heran jika teman-temannya menjulukinnya ‘kebo’.
        Minggu adalah hari yang ditunggu setiap orang. Pasti. Kenapa? Karena Minggu adalah hari dimana setiap orang bebas melakukan aktivitas apapun tanpa terbebani pekerjaan yang biasa mereka lakukan. Mereka menanti dan menunggu hari Minggu seolah-olah Minggu adalah hari terbaik untuk bernafas. Tanpa disangka pernyataan itu berlaku untuk semua kecuali Eka. Ia sangat membenci hari Minggu atau hari libur. Entah apa alasan terbaiknya. Mahasiswi jurusan hitung-hitungan ini merasa hari Minggu adalah hari dimana ia kalah oleh dirinya sendiri dan lingkungannya.
        Eka terhitung mahasiswa yang nggak bodoh-bodoh amat dalam perkuliahannya. Dia bisa menguasai materi dengan baik. Dia cukup berambisius. Tapi semuanya tampak tak terlihat tatkala kepribadiannya yang tertutup.  Dia pandai menyembunyikan hatinya tanpa seorangpun tahu bahkan para sahabatnya sekalipun. Kepribadiannya sangat mengganggunya saat ia ingin bersosialisasi. Ia takut keluar, ia merasa semua mata tertuju padanya. Ia takut apa yang ia lakukan, ia kenakan, ia katakan di cap buruk oleh sekitarnya.
         Pernah suatu ketika ia merasa amat tidak percaya diri. Ia tidak berani untuk keluar atau hanya sekedar untuk membeli makan. Dan akhirnya cuman bisa berdiam diri sambil ditemani laptop dan hp tercinta. Mereka sudah bagaikan pengganti keluarga selama dia dikos. Betapa frustasinya, Ketika para sahabat datang menyapa dan ingin bermain. Ia nampak gelisah tak suka kegaduhan dan keramaian tetapi ketika para sahabatnya menghilang dengan kesibukkan masing-masing disitulah ia merasa kesepian. Bahkan dengan orang terdekat sekalipun ia tidak percaya 100% kecuali ayah dan ibunya.

To be continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar